Rabu, 06 September 2023

Rumah Adat Honai

 Rumah Adat Honai Papua


Asal Usul Rumah Hanoi 
Dahulu masyarakat suku dani masing tinggal dibawah pohon-pohon besar. Jadi saat malam toba mereka akan merasa kedinginan, Apalagi saat waktu hujan, mereka akan basah kehujanan dan kedinginan. Pasalnya, daun-daun pada pohon tersebut tidak dapat terus menerus menahan derasnya air hujan, apalagi saat angin bertiup kencang. Lalu pada suatu hari, masyarakat suku Dani yang bergantung pada alam tersebut, Kemudian belajar dengan burung-burung yang ada di sekitar. Mereka memperhatikan burung-burung yang sedang membuat sarang. Burung tersebut akan membuat sarang ketika hendak bertelur. Mereka melihat burung jantan dan betina iti terbang kesana kemari untuk mengumpulkan sejumlah ranting kayu dan rumput kering. Bahan-bahan tersebut kemudian dibentuk menjadi sarang yang bulat dan menjadi tempat tinggal yang hangat untuk anak burung yang baru lahir. Masvarakat suku Dani itu akhirnya juga belajar membuat ruman yang dapat melindung mereka dari cuaca panas, dingin dan hujan. Kemudian rumah itu dikenal dengan nama Honai, atau onai. Dalam bahasa daerah onal artinya rumah. Honai vang dibangun masyarakat suku Dani ini berbentuk bundar atau lingkaran persis seperti sarang burung, begitu pun atapnya yang berbentuk setengah lingkaran. Tidak ada Honai yang tidak bundar. 



Proses Pembuatan Rumah Honai 
Keluarga yang ingin membuat Honai akan mengundang kerabat atau keluarganya. Jadi selama proses pembangunan Honai, mereka akan makan bersama-sama yang disebut bakar batu. Pertama-tama, mereka akan menggali tanah kemudian menaruh sebuah batu besar yang datar sebagai alas tiang. Setelah itu, tiang utama itu ditaruh di atas batu besar tersebut. Tujuannya, agar tiang utama itu tidak cepat lapuk karena resapan air. Kemudian tiang tersebut diletakkan di titik tengah Honai. Selanjutnya di sekitar tiang tersebut digali tanah berbentuk lingkaran. Papan cincang yang berujung tajam ditancapkan atau ditanam mengikuti lingkaran yang sudah digali. Sementara jarak tiang utama dengan papan cincang disesuaikan dengan luas Honai yang ingin dibuat. Kemudian setiap papan yang ditanam, harus diikat dengan tali rotan agar dinding papan dapat berdiri dengan kokoh. Masyarakat suku Dani paling ahli dalam membentuk lingkaran Honai tanpa menggunakan jangka atau alat khusus. Konon katanya, itu merupakan kemampuan yang berasal dari hati. Setelah tiang dan dinding Honai berdiri, selanjutnya memasang rangka atap dengan cara mengikat kayu buah pada tiang utama dan dinding Honai. Kemudian kayu buah tersebut disusun melingkar seperti payung di atas Honai. Berikutnya alang-alang dikumpulkan kemudian diikat seperti mengikat sapu lidi untuk dipasang di atap. Lalu atap tersebut diikat di rangka atap menggunakan tali rotan. Agar tidak cepat membusuk, atap alang-alang tersebut diasapi. Bagian alasnya, masyarakat suku Dani menganyam lokop/pinde untuk dijadikan tikar sebagai tempat tidur. Lokop/pinde adalah bahasa daerah untuk tanaman yang menyerupai rotan karena sifatnya yang lentur, namun pada bagian dalamnya berongga seperti bambu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Metatah Di Bali

 Metatah atau Potong Gigi  Upacara Potong gigi  yang dalam bahasa bali sering pula disebut  mepandes, mesangih atau metatah  merupakan ritua...